12 Mar

3 Kunci Penghalang Integrated Digital Marketing

3 Kunci Penghalang Integrated Digital Marketing

Kegagalan integrated digital marketing, atau kampanye terintegrasi di digital seringkali kurang disadari oleh para pemilik brand atau marketer. Kita menganggap bahwa digital hanya kumpulan kanal yang harus dicoba tanpa mengetahui apa peran dan fungsinya. Menurut Alex Heaton dari Smart Insight ada 3 penghalang integrated digital marketing yang perlu dikenali sejak awal, sebelum melakukan kampanye. Apa saja itu?Menurut Smart Insight, berdasarkan riset yang dijalankan bersama TFM&A, 56% bisnis mendeskripsikan upaya kampanye onlinenya sebagai upaya yang tidak konsisten, hanya menyentuh dasarnya saja dan tidak memberikan dampak yang berarti. Hanya 44% yang percaya terhadap kontribusi digital marketing atas strategi marketing secara keseluruhan.

Dengan kata lain, kampanye yang terintegrasi dan efektif masih memiliki ruang yang banyak untuk perbaikan. Kita kenali dulu 3 penghalan utama dalam menghadapi tantangan integrated digital marketing.

Penghalang 1, kurang perencanaan

Tidak bisa dipungkiri bahwa di masa depan, setiap effort marketing akan bersentuhan dengan teknologi. Namun pada prakteknya, digital sering diperlakukan sebagai marketing yang berdiri sendiri, terlepas dari strategi marketing secara keseluruhan. Kita melakukannya dengan hit and run. Ditambah dengan kurangnya pemahaman alat ukur untuk menakar keberhasilan atau kegagalan kampanye digital.

Penghalang 2, tim bekerja secara terisolasi dan kurang terkoordinasi

Ada resiko saat divisi digital marketing merupakan divisi terpisah yang bekerja sendiri. Akan terjadi perebutan prioritas, bahkan komunikasi yang tidak sinkron terhadap calon pelanggan.

Tanveer Naseer (@TanveerNaseer) punya beberapa tips manajemen bagaimana strategi digital dapat dikomunikasikan dengan lebih baik:

  1. Tonjolkan bahwa kesalahan/kegagalan merupakan kesempatan untuk pembelajaran dan perbaikan
  2. Komunikasikan tujuan umum terhadap semua divisi
  3. Arahkan semangat kompetisi untuk mengejar target eksternal
  4. Dorong fleksibilitas lebih besar diantara tim
  5. Bangun kepercayaan divisi lainnya terhadap divisi digital

Penghalang 3, kompetisi antar agency

Kehadiran digital yang relatif mengganggu kue agency konvensional, memaksa persaingan antar agency. Agency ATL menyebut ATL-lah yang punya peran paling besar. Demikian juga dengan ego BTL dan digital sendiri. Ini menyebabkan kadang komunikasi tidak terintegrasi. Masih banyak iklan yang tidak menyebutkan alamat website atau facebook fan page, atau akun twitter di akhir frame. Dan poster-poster, billboard berdiri sendiri.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai pemilik brand atau marketer? Tentu saja masalah-masalah di atas bisa dianggap sebagai puncak gunung es di mana dibawahnya ada cukup banyak permasalahan lainnya. Namun potensi digital sebagai kanal marketing terlalu besar untuk diabaikan sehingga hal-hal semacam ini patut dikenali oleh kita semua.

Sumber: http://www.smartinsights.com/traffic-building-strategy/integrated-marketing-communications/integrating-digital-marketing-199/

12 Feb

Integrated Marketing Communication di Area Digital

Integrated Marketing Communication di Area Digital

Integrated Marketing Communication atau disingkat IMC, adalah bentuk komunikasi terpadu dari pemasaran, sehingga customer memiliki pengalaman yang total terhadap suatu brand. Secara definisi (menurut wikipedia), IMC adalah proses perencanaan yang didesain untuk memastikan sebuah brand diterima oleh customer atau prospek terhadap produk, layanan atau organisasi, relevan dan konsisten setiap saat.

Online dan Offline

Integrated Marketing Communication melibatkan pendekatan yang menyeluruh untuk promosi. Dalam artikel ini, kita pisahkan upaya IMC lewat online dan offline. Offline adalah seluruh upaya IMC konvensional seperti iklan media cetak, public relationsbillboard, radio, televisi dan promo-promo langsung (below the line). Online adalah kanal-kanal yang ada di Internet yang memiliki fungsi relatif sama dengan media offline. Kanal itu termasuk Search Engine Optimisation (SEO), e-newsletter, mailing list, banner, webinar, blog, RSS, podcast, Internet TV, dan social network.

Strategi yang Terpisah

Selama ini banyak perusahaan yang menerapkan strategi yang terpisah. Hal ini umumnya didasari pada asumsi bahwa market Internet (terutama untuk Indonesia) belum mencapai titik critical mass untuk dijadikan sebagai sasaran sarana marketing. Dulu seringkali lihat iklan di TV atau koran yang memuat halaman website. Namun saat dikunjungi situsnya tidak ada materi yang bermanfaat. Keberadaan online (online presence) hanya dilakukan sebatas untuk portfolio (sekedar punya).

Potensi Internet dan Pemaduan IMC

Hingga tulisan ini dibuat, pengguna Internet Indonesia diperkirakan mencapai 25 juta orang (data Internet World Stats). Tingkat pertumbuhannya di Indonesia mencapai 1,150% selama 8 tahun (2000-2008). Anda bisa ukur sendiri berapa kira-kira demografinya 10 tahun mendatang.

Dari angka-angka ini tidak sepatutnya Brand Owner atau Media Planner mengabaikan media online sebagai bagian dari strategi IMC mereka. Penggabungan antara online dan offline sebagai bagian dari totalitas pengalaman yang dimiliki pengguna, mutlak perlu.

Bagaimana memadukan dua dunia IMC?

  1. Analogi media
    Cara yang termudah adalah dengan menganalogikan kegiatan online sebagai representasi dari IMC offline. Misalnya pada IMC offline pasang banner di tepi jalan, pada IMC online dapat memasang banner pula di situs-situs media terkenal atau media spesifik. Jika sering menulis advertorial sebagai bagian dari kegiatan public relations, maka di online bisa menulis di blog, baik personal maupun bisa memesan ‘advertorial’ dari blogger-blogger ternama yang memiliki pembaca spesifik.
  2. Memanfaatkan statistik online sebagai supporting data
    Salah satu kekuatan media online adalah kemampuannya untuk tracking data dengan bantuan teknologi. Dalam media konvensional, tidak mungkin Anda tahu berapa orang yang memang membaca iklan Anda? Di Internet, Anda dapat mengetahui siapa yang meng-klik banner iklan Anda. Berapa banyak, dan kapan waktunya, dari daerah mana dia berasal? Juga dalam e-newsletter Anda bisa tahu cerita-cerita mana yang menarik bagi pembaca (dengan profile tertentu). Ini adalah supporting data yang kaya, yang bisa menunjang kegiatan IMC offline.

Saat ini halangan terbesar bagi Brand Owner dan Media Planner yang ingin terjun ke online marketing adalah tidak adanya profile yang memadai. Nielsen mungkin sudah memiliki profil pengguna online di luar negeri, tapi belum di Indonesia (tolong koreksi jika keliru). Tapi dengan terjun sebagai pionir, Anda dapat melakukan profiling sendiri dengan bantuan kemampuan pengumpulan data di media online yang sudah sangat advance.

Studi kasus jika di dalam negeri mungkin masih bisa dihitung dengan jari. Tapi di negara barat, terutama Amerika, hampir semuanya sudah terjun online. Barack Obama adalah contoh yang paling spektakuler, bagaimana media online dapat di leverage di level yang sangat masif.